Lawang Uru (Part 3-end)


(Part 3) 
Perjalanan kami pun berakhir. Namun, kami tidak brenti di tempat awal kami tadi. Dengan maksud supaya kami brenti di dekat mobil, tidak harus terlalu jauh berjalan lagi. Tapi, maksudnya mendekati malah kami menjauhi. Itu pun kalau tidak di ingatkan si anak ketua umat tadi yang sempat jadi fotografer gratisan kami, pasti kami kelewat jauh. Dan itu sama aja kami mesti jalan lagi.
Kami pun brenti dan naik ke atas. Dan ini benar-benar sesuatu yang keren, karna kami harus naik ke atas dengan memanjat tanah yang ada di depan kami. Gue merasa kami sedang memanjat tebing yang tinggi tanpa bantuan alat pengaman. Lalu gue mulai meraba-raba tanah yang ada di depan gue, gue mencari sesuatu yang bisa gue jadiin pegangan maupun tempat bertumpu. Oh, tidak! Gue salah mencari pegangan ternyata yang gue pegang tidak kuat menahan berat badan gue. Gue pun mulai mencari lagi. Oke, sebentar lagi sampai. Tidak sia-sia perjalanan gue. Di atas gue bakalan teriak sekenceng-kencengnya supaya orang tau kalau gue berhasil manjat ini tebing. *ngaco*
Pada intinya kami naik ke atas sambil narik-narik rumput. Gak ngerti? Abaikan, gue juga bingung gimana bilangnya. Dan akhirnya sampailah kami di atas dengan sehat tanpa kekurangan satu apapun. Hidung gue masih utuh dengan kepesekannya. Itu berarti bagian tubuh yang lain masih utuh. Dan sekarang kulit kami berdua Deot yang memang dari awal udah item manis jadi makin imut *item mutlak*.
Selama di perjalanan, saking capeknya harus berteriak di perahu tadi dan juga harus memanjat tebing, kami berdua pun tertidur. Dengan posisi, si Deot jongkok terus gue nungging. Eh, maksudnya Deot duduk dan kepala gue di pangkuannya.
Di tengah perjalanan ternyata para orang dewasa ingin mampir ke rumah umat lain yang juga ada di desa lain. Gue jadi terbangun karna ada cahaya yang bikin gue kaget dan juga silau yang ternyata adalah lampu mobil. Gue sempat berpikir bahwa gue lagi ada di tempat tidur, terus Harry Potter datang sambil membawa tongkat sihirnya terus ngucapin mantra ‘lumos’ di muka gue.
Tapi waktu gue buka mata, ternyata gue masih di dalam mobil. Para orang dewasa turun dari mobil dan masuk ke rumah umat yang mereka kunjungi. Kami anak kecil yang imut hanya berdiam di dalam mobil, ditemani si anak ketua umat. Karna bosen, kami pun mulai banting-banting barang yang ada di dalem mobil sampe mobil pun gak berbentuk. Gue pikir gue terlalu berlebihan. Kami cuma ngutak-ngatik BBnya Deot sambil ngeliat lagi hasil jepretan yang tidak memuaskan tadi.
Gak berapa lama—sebenernya sih lama bukan main—para orang dewasa kembali ke mobil dan perjalanan dilanjutkan.
Kami berdua Deot melanjutkan tidur kami dengan posisi yang berbeda. Kalau tadi kepala gue yang ada di pangkuannya Deot, sekarang kepalanya Deot yang ada di pangkuan gue.
Perjalanan pun diakhiri dengn makan malam bersama, lalu kami pulang ke rumah kami masing dengan selamat.
It’s the amazing Sunday, and I will remember and miss it. *opo arti’e?*

P.S. 
“Sumpah, gaya kita kampungan banget. Orang kota yang kampungan itu ya kita berdua. Di kota aja gayanya kampungan, apalagi masuk kampung. Kampungan banget lah pokoknya.” *dikutip dari percakapan singkat di sebuah media sosial dengan sedikit revisi tanpa menyalahgunakan arti yang sebenarnya* *abaikan*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melati Putih

Buyar

Tera dan Kasihnya